Pertumbuhan ayam broiler yang sangat pesat. Dalam umur 30
hari sudah dapat dipanen.
Cepat bongsornya ayam broiler itu tak
lain karena faktor genetis, lingkungan peternakan, dan pemeliharaan yang tepat.
Dalam usaha budidaya ayam broiler, peternak mengawali
dengan pemasukan anak ayam umur sehari atau day-old chick (DOC) yang
bobotnya 40 gram ke dalam kandang. Ia kemudian melakukan pemeliharaan agar ayam
mencapai potensi pertumbuhannya, yaitu bobot 175 gr (4 kali lipat) dalam waktu
satu minggu. Jika berhasil, selanjutnya pada umur 30 hari, bobot naik sampai
1,5 kg. Artinya, ayam dapat segera dipanen atau dipotong.
Setyo Winarno, peternak ayam broiler di
Sukabumi, Jabar, mengatakan, agar menghasilkan bobot sesuai potensi genetik,
pentingnya memilih sarana produksi peternakan yang berkualitas. Misalnya, pakan
yang diberikan harus berkualitas bagus.
Lebh jauh ia menjelaskan perlunya
selalu meningkatkan manajemen, khususnya pada dua minggu pertama pemeliharaan
dan melakukan seleksi serta pengafkiran anak ayam saat minggu
pertama. Selain itu, kepadatan kandang dikurangi, misalnya untuk kandang
darat konvensional harus lebih kecil dari 12,5 kg per m2. “Untuk
melakukan itu semua, tentunya pekerja kandang harus dibina dengan baik agar
dalam pelaksanaannya sesuai dengan yang diharapkan,“ ungkap Win, demikian
sapaannya.
Djody Hario Seno, peternak broiler di
Bekasi, Jabar, menambahkan, agar pertumbuhan ayam maksimal, manajemen dalam
kandang adalah yang utama. “Dengan melakukan pemanasan pada masa brooding, mengatur jumlah tempat makan dan minum, pelebaran
kandang, permainan layar, kipas untuk angin pun harus diatur,” kata bapak tiga anak ini.
Kenyamanan Ayam
Sementara itu, Drh. Askam Sudin,
praktisi senior di perunggasan, mengungkap, pada usaha ayam broiler, untuk mendukung keunggulan genetis ayam diperlukan kondisi
lingkungan yang memadai. Lingkungan ini berupa pemberian pakan yang bernilai
nutrisi tinggi, kesehatan yang prima, kandang yang nyaman, dan disiplin
pemeliharaan. “Oleh sebab itu, peternak diharuskan memberikan asupan pakan yang
cukup sesuai dengan kebutuhan ayam dan melakukan pencegahan penyakit
(vaksinasi),” jelasnya.
Dalam pemberian pakan yang baik, pakan mesti cukup
mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh ayam, seperti protein, lemak,
abu, serat kasar, energi, vitamin, dan asam-asam amino. “Hal ini dapat dilihat
dari standar kebutuhan zat-zat makanan pada masing-masing periode
pemeliharaan,” tambah Winarno.
Yang juga tidak kalah penting tapi sering terlupakan oleh
peternak, kata Winarno, adalah pakan jangan sampai menyebabkan diare. Pasalnya,
diare dapat menyebabkan alas kandang (litter) menjadi basah sehingga
konsentrasi amonia di dalam kandang meningkat. Bila kadar amonia naik, akan
memicu timbulnya penyakit dan masalah bobot badan ayam. “Jangan
sampai diberikan pakan yang murah namun tidak berkualitas. Boleh saja melakukan
efisiensi pakan, tapi kualitas pakan yang diberikan harus tetap bagus agar tetap
menghasilkan produksi yang optimal,” tandasnya.
Demikian pula peralatan kandang yang vital, seperti
tempat pakan, tempat minuman, pemanas, seng pelindung anak ayam (chick guard),
layar/tirai penutup kandang, dan alat semprot disinfektan, harus tersedia dalam
jumlah yang cukup. “Sebab, jika peralatan kurang dari kebutuhan
berdasarkan jumlah ayam yang dipelihara, dapat menimbulkan masalah sehingga
bobot badan standar akan sulit tercapai. Jumlah ayam kerdil akan tinggi dan
problem penyakit yang timbul akan lebih sering dan sulit diatasi,” papar Djody
yang kandangnya memiliki kapasitas 100 ribu ekor.
Djody mengatakan, penyakit yang akan muncul bisa berupa
penyakit pernapasan atau Chronic Respiratory
Disease (CRD), CRD kompleks, Colibacillosis, dan Newcastle
Diseases (ND) alias tetelo. Penyakit-penyakit ini biasa terjadi, dan
peternak sudah mampu mengantisipasinya dengan baik. Meskipun lumrah, penyakit
itu tetap berbahaya bila peternak tidak waspada. ”Pencegahannya dilakukan
pengobatan. Walaupun demikian, akan tetap ada kematian dan kami patok
mortalitas maksimal 5% di farm,” jelasnya.
Perkandangan ayam broiler juga harus memenuhi
syarat-syarat teknis dan kesehatan ternak. Antara lain tidak bocor
sewaktu hujan, ventilasi cukup, dan saluran-saluran air atau pembuangan di
sekitar kandang harus lancar. “Apa yang dilakukan semua itu, pada prinsipnya untuk
memberikan kondisi ayam yang aman dan nyaman agar kondisi ayam oke semua,”
jelas Winarno yang juga pengurus Gabungan Organisasi Peternak Ayam
Nasional (GOPAN).
Yan Suhendar
|
Standar Performa Mingguan CP Broiler
|
|
Umur
(Minggu) Rata-rata BB (gr) Konsumsi Pakan
(gr) Konversi Pakan (FCR)
Satu hari
40
-
-
1 175 150 0,857 2 486 512 1,052 3 932 1.167 1,252 4 1.467 2.105 1,435 5 2.049 3.283 1,602 6 2.634 4.604 1,748 7 3.177 5.995 1,887 8 3.635 7.380 2,030
Keterangan:
-
FCR (Feed Conversion Ratio), jumlah pakan yang
digunakan untuk menghasilkan 1 kg daging
- Tabel merupakan referensi atau pedoman yang
menggambarkan performa strain ayam dalam kondisi optimum, tanpa pembatasan
pada tiap tingkatan umur (2006)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar